Semua cerita
Cerita penipuan

Dia tidak pernah rugi. Yang rugi selalu kami.

Seseorang menawarkan mengelola akun tradingnya di broker resmi dengan bagi hasil 20%. Brokernya benar-benar berizin. Uangnya tetap habis.

Bayu, 41SurabayaKerugian Rp340 juta

Yang membuat Bayu percaya justru karena semuanya terlihat benar. Dia tidak diminta transfer ke rekening pribadi. Dia mendaftar sendiri di broker berizin BAPPEBTI, mengisi datanya sendiri, dan dananya masuk ke rekening terpisah atas nama PT. Semua yang pernah dia baca tentang cara menghindari penipuan, dia lakukan.

Penawarannya sederhana. Ada tim yang akan trading di akunnya. Bayu tidak perlu tahu apa-apa soal pasar. Kalau untung, tim mengambil 20 persen. Kalau rugi, mereka tidak dapat apa-apa. Terdengar adil — bahkan terdengar seperti mereka menanggung risiko bersamanya.

Dua bulan pertama akunnya naik. Bayu mengirim bagi hasil dengan senang hati. Bulan ketiga akunnya mulai turun, lalu turun lebih cepat. Tim bilang pasar sedang tidak bersahabat dan mengajak menambah modal supaya bisa 'memperbaiki posisi'. Bayu menambah. Dalam empat bulan, Rp340 juta habis.

Yang tidak Bayu ketahui: dia bukan satu-satunya klien. Tim yang sama mengelola puluhan akun, terbagi di dua broker berbeda. Di satu broker mereka membuka posisi beli. Di broker lain, untuk kelompok klien yang lain, mereka membuka posisi jual pada instrumen yang sama.

Artinya salah satu kelompok pasti untung dan kelompok lain pasti rugi — bukan karena analisis, tapi karena memang dirancang begitu. Dari kelompok yang untung, tim mengambil 20 persen. Dari kelompok yang rugi, tim tidak mengambil apa-apa, tapi juga tidak kehilangan apa-apa.

Dan ada penghasilan kedua yang lebih penting. Karena mereka memperdagangkan puluhan akun dengan posisi berlawanan, volume transaksinya sangat besar. Volume itu menghasilkan komisi. Bagi hasil 20 persen hanyalah cerita di depan; komisi dari volume adalah bisnis sebenarnya.

Posisi berlawanan bukan strategi trading. Itu cara menghasilkan volume tanpa menanggung risiko pasar sama sekali. Modal Bayu hanyalah bahan bakarnya.

Setelah rugi, tim menghubungi Bayu lagi: 'Kita coba lagi, kemarin apes saja.' Kelompok yang untung juga dihubungi dengan kalimat yang hampir sama. Banyak orang mengalami putaran ini lima sampai sepuluh kali sebelum berhenti.

Bayu akhirnya mengadu ke brokernya. Brokernya tidak tahu apa-apa. Secara hukum tidak ada yang salah di sisi mereka: akunnya dibuka dengan benar, dananya masuk ke rekening yang benar, dan setiap transaksi dieksekusi sesuai perintah yang masuk ke akun itu. Pihak yang menipu Bayu tidak pernah menjadi bagian dari broker mana pun.

Saat sebenarnya sudah terasa

Bayu sempat merasa aneh waktu diminta memberikan login akunnya. Tapi orang itu menjawab santai, 'Kalau saya tidak bisa masuk, bagaimana saya trading untuk Bapak?' — dan pertanyaannya terdengar masuk akal.

Intinya

Broker berizin melindungi dana Anda dari brokernya — bukan dari orang yang Anda beri akses ke akun Anda.

Nama tokoh dalam cerita ini bukan nama sebenarnya. Cerita disusun dari gabungan beberapa kasus nyata dan pola yang dilaporkan kepada kami, bukan dari satu orang tertentu.

Pernah mengalami hal serupa?

Ceritakan kepada kami. Tim kami menulis ulang cerita Anda secara profesional dan menerbitkannya sebagai peringatan bagi trader lain — tanpa nama, tanpa email, tanpa data pribadi apa pun. Versi finalnya kami kirimkan kepada Anda lebih dulu.

Bagikan cerita Anda