Waspada Penipuan

Cara penipu beroperasi, data yang tidak boleh Anda berikan kepada siapa pun, dan langkah yang bisa diambil jika Anda sudah terlanjur.

Jangan pernah berikan ini kepada siapa pun

Kode OTP

Tidak ada pihak resmi yang pernah meminta OTP — termasuk kami.

Kata sandi

Baik akun trading, email, maupun mobile banking.

Akses jarak jauh

AnyDesk, TeamViewer, atau aplikasi sejenis ke perangkat Anda.

Foto KTP & selfie

Kecuali di situs resmi broker berizin, saat pembukaan akun.

Transfer ke rekening pribadi

Dana nasabah wajib masuk ke rekening terpisah atas nama PT.

Cerita penipuan

Bagaimana orang benar-benar kehilangan uangnya — diceritakan dari awal, termasuk momen ketika sebenarnya sudah terasa ada yang salah.

Dia tidak pernah rugi. Yang rugi selalu kami.

Seseorang menawarkan mengelola akun tradingnya di broker resmi dengan bagi hasil 20%. Brokernya benar-benar berizin. Uangnya tetap habis.

Bayu, 41· SurabayaRp340 juta

Enam bulan dia jadi teman saya. Lalu dia bicara soal investasi.

Perkenalan biasa di media sosial, enam bulan pertemanan, lalu ajakan investasi dengan platform yang tampak sempurna.

Rina, 34· BandungRp210 juta

Robotnya bekerja 24 jam. Yang bekerja sebenarnya adalah perekrutan.

Paket robot trading dengan janji imbal hasil rutin, dijual lewat komunitas dan influencer. Skala kasusnya di Indonesia mencapai triliunan rupiah.

Hendra, 29· SemarangRp95 juta

Dia bukan trader. Dia dibayar dari kekalahan Anda.

Influencer yang tampak kaya karena trading. Penghasilannya sebenarnya berasal dari komisi atas kerugian pengikutnya.

Dimas, 26· JakartaRp48 juta

Setelah kehilangan uang, ada yang menelepon menawarkan mengembalikannya.

Korban penipuan diburu untuk kedua kalinya oleh pihak yang mengaku bisa mengembalikan dananya.

Ratna, 52· MedanRp27 juta

Dia menolong saya waktu susah. Setahun kemudian dia bicara soal uang.

Bukan orang asing yang menawarkan investasi. Orang yang sudah membantu menyelesaikan masalahnya lebih dulu — dan itulah yang membuat penolakan terasa tidak enak.

Wulan, 38· MakassarRp155 juta

Saya kirim Rp12 juta untuk pajak. Lalu mereka minta lagi.

Saldo di layar sudah besar. Untuk menariknya, muncul pajak, lalu bea, lalu biaya proses — masing-masing dengan alasan yang terdengar resmi.

Agus, 45· PalembangRp73 juta

Nama perusahaannya benar. Situsnya bukan.

Menggunakan nama, logo, dan nomor izin broker yang benar-benar berizin — dengan domain dan rekening yang berbeda.

Fikri, 31· BekasiRp62 juta

Grupnya ramai, sinyalnya akurat, hasilnya enam jam.

Grup pesan berisi ratusan anggota yang memamerkan bukti profit, dengan paket titip dana bernilai kecil dan janji hasil dalam hitungan jam.

Sari, 27· TangerangRp31 juta

Uangnya sampai. Hanya saja bukan ke perusahaan.

Satu detail yang membedakan dana yang dilindungi aturan dari dana yang hilang begitu saja: nama pemilik rekening tujuan.

Yusuf, 36· DenpasarRp44 juta

Pernah mengalami hal serupa?

Ceritakan kepada kami. Kami tulis ulang secara profesional dan terbitkan sebagai peringatan — tanpa nama, tanpa email, tanpa data pribadi. Versi finalnya kami kirimkan kepada Anda lebih dulu.

Bagikan cerita Anda

Modus yang sering dipakai

1

Janji profit pasti

Menawarkan imbal hasil tetap per hari atau per minggu. Tidak ada broker berizin yang boleh menjanjikan hasil — pasar tidak bisa dijamin siapa pun.

2

Akun dikelola orang lain

Menawarkan mengelola akun Anda dengan bagi hasil. Brokernya bisa saja benar-benar berizin dan dana Anda benar-benar masuk — kerugiannya tetap nyata, karena yang mengelola untung dari volume transaksi, bukan dari hasil Anda.

3

Grup sinyal berbayar

Sinyal 'akurat 90%' lewat grup pesan, sering diikuti ajakan mendaftar ke broker tertentu yang membayar komisi kepada pemilik grup.

4

Penarikan dipersulit

Deposit lancar, penarikan tiba-tiba butuh 'pajak', 'biaya audit', atau setoran tambahan. Permintaan uang untuk mencairkan uang adalah tanda paling jelas.

5

Meniru nama perusahaan berizin

Menggunakan nama atau logo mirip broker resmi, dengan domain yang berbeda tipis. Selalu cocokkan nama PT-nya, bukan nama mereknya.

Tanda bahaya

  • Diminta transfer ke rekening atas nama perorangan
  • Dihubungi lebih dulu lewat WhatsApp, Telegram, atau media sosial
  • Diburu waktu — 'promo hari ini saja'
  • Nama perusahaan tidak ada di daftar BAPPEBTI
  • Diminta menambah setoran agar dana bisa ditarik

Jika Anda sudah terlanjur

  1. 1. Hentikan semua pembayaran. Permintaan biaya tambahan untuk mencairkan dana tidak akan berhenti.
  2. 2. Simpan bukti — tangkapan layar percakapan, bukti transfer, nama dan nomor rekening.
  3. 3. Laporkan ke bank Anda dan ke Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) secepat mungkin — mekanismenya adalah pembekuan rekening, jadi hitungan jam sangat menentukan. Layanan ini tidak memungut biaya.
  4. 4. Laporkan ke BAPPEBTI sebagai regulator perdagangan berjangka.
  5. 5. Waspadai pihak yang menghubungi Anda menawarkan pengembalian dana dengan bayaran — itu penipuan tahap kedua.
  6. 6. Beri tahu trader lain lewat laporan di bawah ini.